Hari sabtu kemarin, sewaktu jalan-jalan ke sekaten di Alun-alun Jogja, saya terkejut dengan berbagai macam pemandangan yang hampir sama! Pemandangan tersebut adalah atribut-atribut kampanye yang menempel di arena sekaten mulai dari kereta mini, bom-bom car, kios-kios, sampai baju penjaga wahana di sekaten. Partai dan caleg benar-benar memanfaatkan momentum sekaten yang dikunjungi ratusan orang setiap harinya untuk mempromosikan diri.
Sebenarnya pemandangan tersebut tidak terjadi hanya di sekaten tetapi hampir di setiap sudut kota di Jogja dan kemungkinan besar di semua kota, kabupaten, dan propinsi di Indonesia. Tulisan ini tidak akan membahas besarnya uang yang dikeluarkan untuk kampanye putaran ini karena hal tersebut merupakan rejeki bagi banyak orang di Indonesia khususnya industri percetakan. Tulisan ini membahas kritik terhadap isi kampanye beberapa partai dan caleg yang pernah saya lihat langsung. Saya ingin membahasnya karena menurut saya kampanye yang disampaikan mengganjal dengan tujuan yang ingin dicapai partai dan caleg yaitu merepresentasi rakyatnya.
Pertama, beberapa poster dan spanduk caleg yang pernah saya lihat adalah lucu. Umumnya mereka menampilkan beberapa hal:
- nomor urut mereka dalam pemilihan
- sifat pribadi mereka seperti jujur, adil, merakyat, dan lainnya
- slogan
- dan pastinya nama partai.
Bahkan ada satu caleg yang memasang foto Beckham karena nomor urutnya sama dengan nomor punggung Beckham yaitu nomor 7!
Inilah beberapa alasan saya mengapa hal tersebut adalah tidak sesuai dengan tujuan mereka. Sifat pribadi seperti jujur, adil, merakyat, bijaksana yang ditawarkan sebagai caleg seharusnya tidak perlu ditampilkan. Apabila dia yakin dengan dirinya sebagai pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab Insyaallah sifat-sifat tersebut sudah ada di dalam dirinya alias given dan tidak perlu diberitahukan ke orang lain. Dengan kata lain, biar orang lain yang menilai saya apa adanya. Tapi caleg-caleg kita seakan ingin berkata, "Sumpah, aku bersih, ga akan korupsi!" tetapi dalam kata yang lebih halus.
Nomor urut yang ditampilkan menandakan bahwa mereka ingin sekali dipilih pada pemilu ini. Mohon maaf, tetapi buruk sangka saya adalah untuk menarik mereka yang kurang dalam pengetahun dan edukasi dan memilih berdasarkan ingatan akan angka. Atau ada yang menghasut pada saat pemilihan untuk memilih nomor tertentu. Artinya, yang penting masyarakat ingat nomornya, tidak perlu ingat mukanya apalagi namanya! Bagaimana bisa menjadi wakil rakyat???
Kemudian slogan, well, hal tersebut merupakan atribut yang ada di setiap lembaga yang ada. Baik di sekolah, kantor, bank, dan lainnya karena didalam slogan terdapat nilai atau value yang ingin selalu dipegang. Slogan bukanlah sesuatu yang salah dalam poster maupun spanduk, yang bermasalah adalah dimana program-program yang akan mereka laksanakan apabila menjabat?
Ini adalah sebuah ironi karena pemilihan caleg ditujukan untuk memilih calon dengan program yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat di berbagai bidang. Tetapi mengapa sampai saat ini jarang atau bahkan tidak ada caleg yang mempublikasikan program-program yang akan mereka laksanakan. Sewaktu kampanye, program yang dikeluarkan adalah program normatif seperti pendidikan gratis, peningkatan pelayanan kesehatan, dan tidak lupa pemberantasan korupsi.
Di negeri Paman Sam, calon senator misalnya harus memberikan gambaran program-program yang akan dilakukannya selama kepemimpinannya. Mereka melakukannya dengan melakukan kampanye lisan di beberapa tempat strategis dimana masa bisa mengerti apa yang akan dia bawakan dalam kepemimpinannya. Selain itu mereka menyebar booklet yang berisi penjelasan mengenai program-program yang akan dilaksanakan selama kepemimpinannya. Kualitas calon pemimpin benar-benar dinilai dalam proses ini.
Bukan itu yang ingin kita lihat. Yang ingin kita lihat adalah program-program yang mereka akan laksanakan kedepan. Dari situ, kita dapat menilai apakah mereka merupakan calon yang visioner atau mereka yang hanya memanfaatkan "nama" mereka untuk menggaet suara. Tulisan Mankiw di blog-nya yang berjudul "Judging President" memberikan gambaran baru mengenai bagaimana menilai seorang pemimpin. Pemimpin sebaiknya dinilai tidak dari hasil kerja mereka misal naiknya ekspor, turunnya utang, turunnya harga sembako, turunnya harga BBM. Namun, pemimpin sebaiknya dinilai berdasarkan proses yang diambil dalam melakukan sebuah keputusan. Output dari keputusan bisa buruk maupun baik tergantung variabel-variabel eksternal yang berpengaruh, namun keputusan tersebut merupakan hasil pemikiran terbaik dari segi benefit dan cost, manfaat mudarat, di masa ini dan masa yang akan datang. Apapun outcome-nya, apabila keputusan diambil dengan proses yang seharusnya maka dia adalah pemimpin yang baik.
Well, saya benar-benar meragukan apakah mereka benar-benar harus dipilih karena saya tidak dapat mengenal mereka dan saya tidak dapat mengerti program yang akan mereka laksanakan. Bagaimana kita dapat memilih dengan informasi yang tidak sempurna?
Ini adalah catatan penting yang patut kita jadikan tonggak perubahan menjadi yang lebih baik. Untuk mengatasi "kegundahan" masyarakat akan "keabsahan" partai dan caleg yang melakukan kampanye, mereka diharapkan dapat lebih proaktif. Proaktif dalam memperkenalkan diri mereka ke rakyat, tidak sekedar nomor urut dan slogan, namun juga program-program yang akan mereka lakukan. Kita tidak ingin salam memilih pemimpin bukan?
3 comments:
jujur, ak bingung mw pilih siapa pemilu nanti. tpi tetap lebih baik memilih daripada tidak, setidaknya dengan memilih kita tau pilihan kita benar atau salah. tpi beneran lang, yg pasang foto becks itu kyknya agak lebayy deh,hahaha
bukan cuma sekedar masang foto beckham,
yang masang foto anaknya karena anaknya itu artis terkenal juga ada, mas..
soal imperfect information, sepertinya bukan cuma ada di Indonesia aja, di mana-mana juga ada..
cuma lebih terekspos di emerging countries, salah satunya Indonesia yang sedang nyari jati diri melalui berbagai peraturan dan kebijakan-kebijakannya yang sering gonta-ganti itu.
aaaanyway, great post, mas gilang!
That's right, imperfect information ada dimanapun. Tapi, they have efforts untuk mengurangi imperfect information. But here, imperfect information would be an advantage, wouldn't it be?
Changing rules and policies? ekspos ini karena mainstream media di Indonesia. Mereka mencoba membesarkan "gonta-gantinya" instead of memberikan "important insights", advantages, and disadvantages dari perubahan. Jadi, orang terfokus ke perubahannya tidak ke kenapa berubah?
Cheers..
Post a Comment